Ayah
Ayah Ayah... Bola matamu dengan warnanya yang semakin memudar Menjadi saksi perjuangan kerasnya hidupmu di bawah terik matahari Kerasnya mengadu nasib demi sesuap nasi Demi mengais rezeki untuk keluarga yang menanti Ayah... Kulit kasar di telapak tanganmu, urat-urat yang menonjol di lenganmu Itu tanda kerasnya perjuanganmu Tak peduli walau badai datang menerpa hidupmu Perjuanganmu tak pernah surut dan kering begitu saja Aku malu padamu wahai Ayah Aku hanya bisa mengeluh dan mengeluh menyikapi kerasnya hidup ini Sedangkan, harapanmu sangatlah besar Walau kerasnya hidup sudah menjadi makananmu Ayah... Aku tak bisa membalas hebat dan besarnya kegigihan perjuanganmu Dan kini sepenuhnya kuabdikan diriku padamu Ketika akhirnya usia senjamu tiba, otot-otot mulai melemah Aku siap menggantikan sosok dirimu yang kuat bertarung melawan arus Created by Steviarif Oka Zaki HI/4B